Sabtu, 06 Juli 2019

Epistoholik, Shifting Gear dan Kesulitan Pemburu Pekerjaan Menulis Surat Lamaran

No Oleh : Bambang Haryanto

Dua tokoh psikologi Universitas Indonesia. Sarlito Wirawan Sarwono. Tika Bisono. Ditambah Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas. 

Mereka bertiga yang akan mewawancarai 20 kontestan guna memilih 10 orang sebagai pemenang kontes Mandom Resolution Award 2004. Dari ribuan kontestan yang mengirimkan ide resolusinya, saya bisa masuk dalam kelompok 20 finalis tersebut. 

Resolusi saya adalah gagasan memanfaatkan blog sebagai senjata sosialisasi kaum epistoholik dalam menyebarkan gagasan manfaat penulisan surat-surat pembaca bagi masyarakat Indonesia. 

Bertempat di Hotel Borobudur, 26-28 November 2004, kontes dilaksanakan. Bagaimana saya berusaha memenangkan kontes itu? Riset. Riset. Dan riset. Materi sudah saya kuasai, kini tinggal bagaimana strategi menjualnya. Pintu awal untuk "laku" adalah berusaha agar diri saya tidak menjadi orang asing bagi ketiga juri tersebut. 

Dampak positif dari riset itu mengalir sampai jauh. Bahkan beberapa tahun sesudah kontes itu berlangsung, koneksi saya dengan salah satu juri tetap terjaga. Terutama dengan almarhum Prof Sarlito, di mana enam tahun kemudian beliau bersedia menulis khusus mengenai humor untuk ikut mengisi buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).

Waktu PDKT untuk ketiga juri itu tiba, yakni saat makan siang bersama di hari pertama penjurian. Saya beruntung dapat giliran penjurian di hari kedua sehingga operasi PDKT saya bisa terlaksana. 

Pertama, saya ngobrol-ngobrol dengan Prof Sarlito. Topiknya, istri beliau adalah kakak kelas saya (jauh) saat saya belajar di kampus Rawamangun. Klik. Kemudian saya ngobrol dengan Tika Bisono. Siapa tak kenal beliau, sebagai psikolog dan penyanyi? Pernah dengar lagu indahnya, "Melati Suci" yang ciptaan Guruh Soekarnoputra? 

Klik lagi. Saat itu saya ingatkan tentang acara seminar strategi berburu pekerjaan di mana Tika Bisono saat itu sebagai salah satu nara sumbernya. Bertempat di Jakarta Design Center, Slipi, tahun 1980-an.

Saya temui saat rehat, saya berikan informasi kepadanya mengenai manfaat buku Dictionary of Occupational Titles (DOT) untuk para pemburu kerja. 

Buku setebal bantal terbitan Depnakernya Amerika Serikat itu berisi data belasan ribu jenis pekerjaan beserta data keterampilan terkait benda-data-orang pada setiap pekerjaan yang ada. 

Sumber DOT ini adalah salah satu panduan kunci bagi setiap pemburu pekerjaan yang ingin tampil profesional untuk lebih berhasil. Karena informasinya dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencocokkan keterampilan yang dia miliki dengan tuntutan tiap-tiap pekerjaan yang ingin dia lamar.

Untuk ngobrol dengan Maria Hartiningsih, apa idenya? 

Saya ingat dia pernah menulis tentang gonjang-ganjing dunia pekerjaan di tahun 90-an ketika badai PHK merajalela di dunia. Saat itu peniti karier dipaksa untuk mengubah orientasinya dalam memaknai dunia pekerjaan.

Dia mengutip bukunya Carole Hyatt, Shifting Gears : How to Master Career Change and Find the Work That's Right for You. Dalam buku itu faham bahwa satu pekerjaan untuk seumur hidup, dalam satu perusahaan, adalah faham yang usang. 

Orang kini harus terus memindah-mindah persnelingnya, shifting gears, memperbarui keterampilan dan berusaha terus berburu pekerjaan dalam sepanjang hidup mereka,  agar survive dalam kehidupannya. 

Kebetulan saya punya buku itu. Suatu kebetulan? Serendipity? Kami pun mengobrolkan isinya tentang upaya kaum PHK-wan pada saat itu dalam menemukan pekerjaan baru mereka. 

Ada yang terlewat dalam obrolan. Di buku itu tertulis pendapat bahwa "sebanyak 99 persen pemburu kerja tidak becus dalam menulis CV mereka." 

Anda catat : Pendapat itu tergurat dalam buku terbitan tahun 1992. Kami obrolkan di tahun 2004. Dan kini kita hidup di tahun 2019. 

Mari bercermin : Kalau Anda kini sebagai pemburu kerja yang juga masih mengalami kesulitan yang sama dalam menulis surat lamaran, maka kiranya lanskap dunia berburu pekerjaan belum banyak berubah. 

Mau tak mau, semoga Anda kini mau memelajarinya. Kalau saja Anda seorang epistoholik, yang terbiasa menulis surat-surat pembaca dan bisa dimuat di media massa, belajar menulis surat lamaran secara profesional akan lebih mudah dijalani. 

Tinggal diperkaya dengan perspektif baru, bahwa surat lamaran adalah sarana komunikasi bisnis. Bukan sarana meminta belas kasihan. Melainkan sarana menjual diri secara tertulis guna menawarkan potensi dan keterampilan Anda kepada perusahaan, dengan titik berat bahwa Anda menyatakan diri mampu memberikan solusi untuk kemajuan bisnis mereka. 

Tetapi patut diingat, berburu pekerjaan dengan mengandalkan kepada surat-surat lamaran semata, bukan opsi yang sempurna.  Seperti ujar Dick Bolles, pakar strategi berburu pekerjaan sejak era 70-an, bahwa dunia perusahaan sudah banyak berubah tetapi sebagian besar pemburu pekerjaan tidak berubah. 

Usulnya : aneka ragamkan strategi Anda dalam berburu pekerjaan. Utamanya, titik beratkan kepada strategi yang agresif dan non-tradisional. 

Yakni berjejaring, menggalang koneksi, dan bukankah LinkedIn membuka peluang besar untuk itu? 

Sabtu, 29 Juni 2019

Kiat Sukses Berburu Pekerjaan dari Pasukan Pemadam Kebakaran

 Oleh : Bambang Haryanto



Sibling rivalry. Perseteruan (abadi?) antar-saudara telah menjadi plot utama dari film Backdraft (1991) ini. Ini film tentang perjuangan regu pemadam kebakaran. 

Dalam film ini kita bisa belajar mengenai karakter api dalam suatu bencana kebakaran, dimana dalam suhu tertentu api seolah bisa memiliki "nyawa" dan menantang berdialog dengan para pasukan pemadam kebakaran. Api bisa membesar dan makin ganas atau sebaliknya tergantung dialog antar-keduanya. 

Kisah perjuangan pasukan damkar ini pernah diulas oleh Prof Rhenald Kasali. Yakni tentang ritual mereka seusai tugas pemadaman selesai. Mereka selalu bertemu untuk mendiskusikan keberhasilan atau pun kegagalan atas misi yang baru berlalu. Secara bersama mereka saling belajar, berbagi pengalaman demi meningkatnya kapasitas diri masing-masing. 

Mengapa keteladanan mereka ini tidak mengilhami para pemburu kerja? Dengan membentuk #jobclub untuk menggalang rasa setiakawan, untuk berbagi wawasan dan informasi, demi keberhasilan bersama.

Dalam film Backdraft itu, ketika kota dihantui penjahat pembakar api (arsonist), perseteruan antar-saudara itu bisa mereka sisihkan. Mereka kemudian bekerjasama untuk menanggulangi bencana kebakaran yang terjadi.

Kebersamaan menjadi kunci sukses bersama. 
Bagaimana dengan Anda ?

Kamis, 27 Juni 2019

Agar Anda Sukses Berburu Pekerjaan, Tirulah Kucing Anda!

 Oleh : Bambang Haryanto

Kucing mempunyai sembilan nyawa. Itulah kepercayaan dan juga mitos yang hidup di pelbagai negara.  

Bahkan William Shakespeare menabalkan hal itu dalam kisah drama karyanya yang terkenal, Romeo dan Juliet.  Dalam film, siapa peran Juliet yang Anda kenal : Olivia Hussey atau Claire Danes?

Kucing punya nyawa banyak, di Spanyol  disebut 7 nyawa dan di Arab 6 nyawa, karena kucing memiliki tubuh beragilitas tinggi. Jatuh dari gedung bertingkat atau nyaris tertabrak mobil, dan tetap bisa selamat, mungkin itu alasan kuat dia memperoleh julukan itu. 

Anda sebagai pemburu kerja,  agar sukses, Anda harus pula memiliki 9 nyawa. Nyawa manusia memang tetap satu, namun Anda kini bisa hadir dalam pelbagai presentasi secara simultan di dunia nyata dan dunia maya. Kedua jenis kehidupan itu kini semakin tidak terpisahkan dalam dunia pekerjaan. 

Karena fakta menunjukkan bahwa dewasa ini sebanyak 93% rekruiter atau HRD akan melakukan cek silang atas CV Anda dengan presentasi Anda di dunia maya. Jadi, sejak Anda berkuliah, kelolalah secara bijak "nyawa-nyawa" Anda di Facebook, Instagram, LinkedIn, Pinterest, Snapchat, Tumblr, WhatsApp, Blog, Website dan media digital lainnya. 

Anda siap?! 

 

Senin, 24 Juni 2019

Strategi Sukses Anda Berburu Pekerjaan Model "Perang Bintang"

Oleh : Bambang Haryanto












Kunci rahasia sukses Anda : Sergap dulu lowongan sebelum bocor keluar.
Manfaatkan orang dalam.
Galang koneksi sejak Anda berkuliah.
Dan pelajarilah bagaimana strategi Amerika Serikat untuk berusaha memenangkan Perang Bintang.

Tahun 90-an, di era Perang Dingin, Presiden Ronald Reagan mencanangkan gagasan Inisiatif Pertahanan Strategis untuk menangkal ancaman peluru kendali antarbenua Uni Sovyet saat itu. Cara perang futuristik tersebut saat itu disebut sebagai Perang Bintang. 

Caranya : dengan menempatkan satelit di angkasa yang dipersenjatai sinar laser kuat sehingga mampu menembak jatuh peluru-peluru kendali Sovyet  sebelum mampu menjangkau tanah Amerika Serikat. 

Kapan momen terbaik untuk menembaknya ?
Lihat gambar urutan peluncuran peluru kendali tersebut. 

Dari angka 1 sampai 4 terlihat bagaimana roket peluncur membawa hulu ledak (warna merah) meluncur hingga menembus atmosfir. Pada posisi 5, hulu ledak kembali memasuki atmosfir untuk menuju sasaran. Di dalam hulu ledak itu terdapat tidak hanya satu kepala hulu ledak, melainkan banyak kepala hulu ledak yang masing-masing diprogram untuk menyerang sasaran tertentu (7). 

Dalam  gambar 6, kepala hulu ledak itu menyebarkan chaff, keping-keping logam (bercak putih), untuk mengacaukan peluru kendali lawan yang berusaha mencegatnya.  

Kapan sebaiknya satelit yang bersenjatakan laser menghantam peluru kendali tersebut ? Idealnya adalah saat di antara gambar 1 sampai 4. Sebab kalau pada tahap 5, hulu ledak itu sudah tidak lagi tunggal sehingga merepotkan penembakannya. 

Sebagai pemburu kerja, apa yang bisa kita pelajari dari cerita Perang Bintang tadi ?

Bisa kita ibaratkan bahwa lowongan pekerjaan yang terbuka di perusahaan semula dalam tahap 1 sampai 4, yakni lowongan pekerjaan yang belum diiklankan. Perusahaan pada tahap itu dalam mengisi lowongan adalah terlebih dahulu memeriksa tenaga kerja internal, misalnya untuk dimutasi. Atau naik pangkat.

Atau memeriksa daftar pelamar di waktu yang lalu. 

Cara lainnya, menyampaikan informasi tentang lowongan itu kepada karyawan, untuk bisa menarik saudara, kerabat atau yang dikenal karyawan, untuk melamarnya. 

Inilah saat terbaik Anda untuk melamar pekerjaan. Inilah kondisi yang disebut sebagai lowongan yang tersembunyi, yang besarnya 85% dari lowongan yang ada. Sisanya yang diperebutkan oleh sebagian besar pemburu pekerjaan adalah hanya 15% saja besarnya. 

Kunci suksesnya, jauh-jauh hari Anda harus menggalang koneksi, berusaha mengenal dan dikenal dengan baik orang-orang dalam di pelbagai perusahaan yang menjadi sasaran Anda. 

Sebab kalau lowongan itu sudah sampai di tahap 5, artinya saat lowongan sudah terlanjur diiklankan, maka saingan Anda sudah banyak sekali. 

Ada pendapat ?

#berburupekerjaan
#berburupekerjaanagresif
#koneksiitukunci
#lowongantersembunyi
 

Minggu, 16 Juni 2019

Saat Anda Miskin : Nasehat Jack Ma Untuk Anda

Oleh : Bambang Haryanto

"Saat Anda miskin,
kurangi waktumu di rumah.
Perbanyaklah kegiatanmu di luar. 

Saat kaya, perbanyaklah waktu di rumah, kurangi kegiatanmu di luar. 
Ini adalah seni kehidupan." 

Jack Ma


PS : Saat "miskin" boleh jadi juga termasuk saat berstatus jobless, belum memperoleh pekerjaaan. 

#berburupekerjaan 
#berjejaring
#koneksiitukunci 
#menggalangkoneksi
#networking

Job Club : Ibarat Burung Berbulu Sama Terbang Bersama

Oleh : Bambang Haryanto

Status menganggur bagi pria yang sudah berumah tangga mampu memicu krisis lain. Yakni perceraian. Tetapi bila status menganggur itu dialami oleh sang istri, ancaman perceraian itu tidak terjadi. 

Itulah petikan hasil penelitian Liana Sayer dari Ohio State University, yang  dimuat di situs Livescience (2011). Penelitian dengan responden warga AS itu  menunjukkan bahwa suami tetap sebagai pencari nafkah utama keluarga. Jadi, perceraian  itu diinisiasi oleh istri yang suaminya berstatus menganggur dan juga oleh istri yang berstatus sebagai pekerja. 

Semoga hal di atas itu tidak terjadi pada diri Anda. Karena berstatus menganggur sudah menjadi beban berat bagi kalangan suami. Boleh jadi, suasana rumah menjadi berbeda, dimana hal-hal kecil mudah memicu konflik,  dan tidak semua istri mampu secara terus-menerus menjadi penyemangat bagi suami di masa-masa yang tidak menentu ini. 

Usul-usil saya : suami itu harus mencari sumber tambahan semangat dan inspirasi untuk terus berjuang. Selain berinteraksi di Linkedin maka fihak pertama untuk digandeng sebagai mitra berjuang ya tidak lain adalah kaum sesamanya yang mampu memahami situasi yang sama. Yakni mereka yang sama-sama sebagai pencari kerja. 

Bentuklah job club, klub pencari kerja. Seperti ungkap pepatah di judul tulisan ini, maka aksi bergotong royong akan mampu membuat beban berat jadi lebih ringan bila disandang secara bersama-sama. 

#berburupekerjaanagresif 
#koneksiitukunci
#jobclub

Job Club, Ayo Belajar dari Alcoholics Anonymous !

Oleh : Bambang Haryanto

Kecanduan alkohol di negara AS sudah menjadi penyakit masyarakat yang lama dikenal. Upaya seseorang untuk terbebas dari kecanduan itu selain dengan masuk panti rehabilitasi, juga membangun komunitas sesama mereka. 

Organisasi mereka dikenal bernama Alcoholics Anonymous atau Pencandu Alkohol Tak Bernama. Secara rutin mereka bertemu, berbincang, bertukar pengalaman dan perjuangannya untuk kembali hidup normal tanpa alkohol. Mereka saling memperkuat semangat untuk keberhasilan secara bersama.
 
Problem yang sama-sama mereka sandang berusaha diatasi secara bersama pula, untuk saling menguatkan tekad, demi keberhasilan masing-masing anggotanya. 

Usul-usil : Bagaimana kalau spirit dari organisasi atau komunitas Alcoholics Anonymous tersebut dikopi oleh para sahabat yang kini sama-sama menjadi pencari kerja, dengan membentuk komunitas atau klub pencari kerja? 

#berburupekerjaanagresif 
#jobclub 
#koneksiitukunci